Aceh Barat (Meulaboh)-faktakriminal.com
Serangkaian bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia pada 25 November 2025 kembali memunculkan keprihatinan mendalam di tengah masyarakat. Mulai dari banjir, tanah longsor hingga guncangan gempa, seluruh peristiwa itu menjadi pengingat bahwa manusia tidak pernah terlepas dari kekuasaan Allah SWT. Di berbagai daerah, masyarakat bersama tokoh agama menyerukan doa, solidaritas, dan renungan batin.
Salah satu nasihat yang kembali mendapat perhatian publik adalah petuah lembut dari Wali Agama Aceh, Abuya Syech H. Amran Wali Al-Khalidi, yang pernah beliau sampaikan ketika pandemi Corona melanda dunia. Dalam situasi global yang saat itu penuh kecemasan, Abuya mengajak umat untuk tidak sekadar takut pada musibah, tetapi melihat hikmah di baliknya.
“Ingat bencana, ingat Allah.”
Itulah inti pesan yang kembali relevan hari ini. Abuya menegaskan bahwa di balik segala ikhtiar lahiriah, ada tuntunan batin yang tidak boleh dilupakan—yakni mengembalikan seluruh urusan kepada Allah SWT.
Petuah tersebut kembali diangkat oleh banyak pihak, termasuk jajaran pengurus dan jamaah Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I), yang melihat pesan Abuya sebagai penyejuk dan peneguh hati di tengah ujian.
Pernyataan Syamsul Kamal
Menanggapi peristiwa bencana dan merefleksikan kembali petuah Abuya, Syamsul Kamal, salah seorang jamaah dan pemerhati kegiatan dakwah MPTT-I, menyampaikan pandangannya kepada media.
Dalam keterangannya, ia mengatakan:
> “Setiap bencana adalah panggilan halus dari Allah agar manusia kembali menyadari siapa yang Maha Berkuasa atas hidup ini. Pesan Abuya — ‘ingat bencana, ingat Allah’ — bukan hanya nasihat, tetapi penuntun agar kita tetap tenang, tidak panik, dan tidak lupa bahwa ada hikmah di balik setiap kejadian. Kita berikhtiar, tetapi hati tetap bertawakkal.”
Ia menambahkan bahwa masyarakat Aceh telah lama terbiasa menghadapi bencana dengan kekuatan spiritual dan kebersamaan. Menurutnya, pesan Abuya sangat tepat untuk kembali menguatkan mental masyarakat pada saat-saat seperti ini.
> “Kita harus saling membantu, saling menguatkan, dan memperbanyak doa agar Allah melindungi negeri ini. Inilah saat terbaik untuk memperbaiki diri, memperbanyak syukur, dan memperkuat hubungan kita dengan Allah,” tambahnya.
Bencana Sebagai Renungan dan Kesempatan Memperbaiki Diri
Berbagai tokoh agama di Aceh juga menilai bahwa pendekatan spiritual adalah bagian penting dalam penanggulangan bencana. Selain upaya fisik, kesiapan mental dan keteguhan hati masyarakat sangat menentukan dalam menghadapi dan memulihkan diri dari dampak bencana.
Pesan Abuya yang kembali digaungkan hari ini bukanlah ajakan untuk meninggalkan ikhtiar, tetapi pengingat agar setiap usaha dipadukan dengan kekuatan doa dan kesadaran akan kehadiran Allah SWT.
Dengan menjadikan bencana sebagai renungan, masyarakat diharapkan dapat mengambil hikmah, meningkatkan solidaritas, menjaga alam, serta memperbaiki hubungan sesama manusia dan dengan Sang Pencipta.
Tim & Redaksi.


Social Header