Aceh Barat-faktakriminal.com
Refleksi Kedewasaan Iman di Tengah Budaya Saling Menyalahkan
Di tengah ruang publik yang semakin bising oleh penilaian, penghakiman, dan kecenderungan menyalahkan yang berbeda, sebuah buku hadir sebagai ajakan yang sunyi—bahwa masalah umat mungkin bukan pada perbedaannya,
melainkan pada cara kita menyikapinya.
Kita hidup di zaman di mana perbedaan tidak lagi sekadar kenyataan, tetapi sering berubah menjadi sumber ketegangan.
Perbedaan mazhab diperdebatkan.
Perbedaan pandangan dipertajam.
Perbedaan keyakinan kerap diposisikan sebagai ancaman.
Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang perlahan menguat:
kita semakin mudah menilai, namun semakin sulit memahami.
Ruang-ruang percakapan dipenuhi reaksi cepat,
namun miskin kedalaman.
Segala sesuatu terasa harus dikomentari,
seolah-olah diam bukan lagi pilihan.
Padahal tidak semua yang berbeda harus diluruskan.
Dan tidak semua yang tidak sama harus dipermasalahkan.
Melihat realitas ini, Ustadz Syamsul Kamal menghadirkan buku Di Jalan yang Berbeda, Menuju Tuhan yang Sama—sebuah kelanjutan dari karya sebelumnya yang mengangkat tema persatuan dalam saf.
Jika buku pertama mengajak umat kembali merasakan kebersamaan,
maka buku ini melangkah lebih jauh—
mengajak pembaca memahami bahwa perbedaan adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihapus,
namun bisa disikapi dengan kedewasaan dan kebijaksanaan.
Buku ini tidak hadir untuk memperdebatkan siapa yang paling benar.
Ia juga tidak datang untuk mencampuradukkan keyakinan.
Ia hadir untuk mengajak kita berhenti sejenak dari kebisingan,
lalu kembali bertanya—dengan jujur—kepada diri sendiri:
Mengapa kita begitu mudah terusik oleh yang tidak sama?
Mengapa kita sibuk mengurus orang lain, namun lupa membenahi diri?
Dan mengapa perbedaan lebih cepat memecah, daripada memperkaya cara pandang kita?
Dengan bahasa yang tenang dan reflektif, buku ini menegaskan satu hal penting:
persatuan tidak selalu berarti keseragaman,
dan perbedaan tidak selalu menjadi ancaman.
Justru di tengah perbedaan itulah, kualitas iman diuji.
Bukan pada seberapa kuat kita mempertahankan pendapat,
tetapi pada seberapa lapang kita menerima keberadaan orang lain.
Bukan pada seberapa cepat kita mengoreksi,
tetapi pada seberapa dalam kita memahami.
Karena bisa jadi,
yang selama ini kita anggap sebagai keberanian,
hanyalah ketergesaan dalam menilai.
Dan yang kita kira sebagai pembelaan kebenaran,
sering kali hanyalah cara halus untuk memenangkan diri sendiri.
Di era media sosial, ketika setiap orang memiliki ruang untuk berbicara,
kita sering merasa perlu untuk ikut menilai segala hal.
Namun yang sering luput disadari,
yang kita lihat hanyalah potongan—
bukan keseluruhan.
Dari potongan itulah kita membangun kesimpulan.
Dari kesimpulan, kita membangun sikap.
Dan dari sikap, lahirlah jarak yang semakin jauh.
Buku ini hadir untuk memutus rantai itu.
Ia mengingatkan kita bahwa tidak semua hal harus menjadi urusan kita.
Tidak semua perbedaan menuntut respon.
Dan tidak semua yang kita anggap salah harus segera diluruskan oleh kita.
Karena mungkin,
yang perlu kita perbaiki bukan dunia yang berbeda-beda ini,
melainkan cara kita melihatnya.
Dan mungkin pula,
yang perlu kita rapikan bukan orang lain—
tetapi hati kita sendiri.
Pada akhirnya, kita semua sedang berjalan.
Dengan langkah yang berbeda.
Dengan pemahaman yang tidak selalu sejalan.
Namun menuju satu arah yang sama.
Dan mungkin, yang selama ini kita kira sebagai perbedaan yang memisahkan,
sebenarnya hanyalah jalan-jalan yang belum kita pahami.
Di sanalah kedewasaan iman diuji—
bukan pada seberapa keras kita membela,
tetapi pada seberapa tenang kita menyikapi.
Bukan pada kesamaan yang kita tuntut,
tetapi pada perbedaan yang kita hadapi.
Karena bisa jadi,
di saat kita berhenti menyalahkan,
di situlah kita mulai benar-benar memahami.
(Rj)


Social Header