Pontianak, faktakriminal.com
5 Tahun itu Itu bukan angka. tapi Selama 5 tahun menahan kesakitan. Kepedihan. Kemarahan, Kebencian, Rasa menyerah, Putus asa dan Harapan. Bertepatan pensiun sebagai Perawat Rs. Dr. Sudarso Kota Pontianak. Kalbar. Ety Mardyati di vonis menderita penyakit outoimun.yang terdiri sariosi dan ponticus.
Ketika Gelang Rs Alnoor terlilit di lengan Bu. Ety. Suara azan mengalun di tanah Mekah tanah dambaan Umat islam untuk Menunaikan Rukun Islam yang ke 5
Tapi mulutnya gak pernah nyerah bilang, Bang,kita haji ya. Kita sudah Tunda dua kali sudah cukup. Kalau Allah panggil, kita sambut”.
Pak Gusti cuma ngangguk. Tiap Bu Etty merintih kesakitan,saat Bu Etty ingin mandi beliau yang menyiapkan air hangat. Tiap Bu Etty bilang “aku capek”, beliau jawab “istirahat sini di bahuku”. Dua kali nama mereka dicoret dari daftar keberangkatan. Dokter bilang “belum kuat”. Bu Etty bilang “Allah yang nguatin”.
7 Mei 2026. Bandara Supadio.
Bu Etty pergi menggunakan kursi roda. Diiringi oleh sang suami yang selalu standby menemani walaupun ada rasa sakit yang menghantui tapi semangat berhaji yang menguatkan mereka berdua
Di Mekkah, sakitnya gak kalah. Tapi tiap lihat Ka’bah, Bu Etty bisik: “Deket lagi pak Arafah tinggal selangkah”.
6 Dzulhijjah, pukul 15.30.
Aku masih ingat saat Bu Etty merintih kesakitan, Tim medis kloter 16 melaju membawa beliau ke RS Mekkah dengan menggunakan ambulance ”.
Pak Gusti dengan wajah bingung ,sedih tapi tetap diam sabar menemani istrinya saat di dorong dengan kursi roda oleh petugas medis, Tapi di pintu UGD, satpam Arab ngangkat tangan. “Ahlan, tapi suami tidak boleh masuk. Qanun mustasyfa”. Aturan rumah sakit. Perempuan, laki-laki dipisah.
Pak Gusti mentok di pintu kaca. Tangannya nempel ke kaca dingin. Di dalam, Bu Etty segera ditangani oleh dokter RS Mekkah, Bibirnya gerak. Gak ada suara. Tapi Pak Gusti tau itu artinya: “Gak apa-apa pak. Kamu wukuf ya. Aku nyusul dari sini”.
Malam itu beliau gak tidur. Sajadah digelar di kamar hotel kamar 501 Dari Isya sampai Subuh cuma “Ya Allah, ku titip Etty istriku”.
8 Dzulhijjah, 11.30.
HP kloter bergetar. Nomor RS. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Ibu Etty wafat 10 menit lalu. Husnul khotimah, Pak”.
Dunia Pak Gusti hening. Saat itu jamaah kloter 16 sedang menunggu Bus ke Arafah dengan tenang pak Gusti berdiri. Punggungnya tegak. Ke petugas: “Berangkat Pak. Etty istri saya sudah wukuf di sisi Allah. Giliran saya wukuf di Padang Arafah. Kita janji berangkat berdua. Pulangnya... ya pulang bareng juga kan”.
Di bus kloter 16 pak Gusti mengikuti bis jamaah murur,beliau duduk paling depan. Ihram putih, tasbih di tangan, mata ke depan. Tidak menangis tidak mengeluh. Karena bagi beliau 5 tahun menemanin istrinya sakit, beliau sudah belajar satu hal dari Bu Etty: ikhlas itu bukan gak sakit. Ikhlas itu tetap jalan walau sakit.
Pas Zuhur, khatib Arafah bilang: “Hari ini Allah membanggakan kalian”. Pak Gusti angkat tangan. Doanya pendek, tapi bergetar sampai ke langit:
“Ya Allah... ini wukufku. Ini wukuf Etty juga. 5 tahun dia menahan sakit , 2 hari dia menahan sakit di RS Mekkah. Terima dia ya Allah. Terima kami berdua”.
Maghrib, jamaah turun ke Muzdalifah bawa doa. Pak Gusti turun bawa satu kain ihram lagi. Ihram Bu Etty yang terlipat rapi di tas. Tidak sempat dipakai wukuf.
Bu Etty dimakamkan di Nas Alsyareey ,fardhu kifayah beliau diurus langsung oleh pihak RS Mekkah.
Kadangkala Allah tidak kasih kita momen perpisahan yang sempurna. Tapi Allah kasih kita cara perpisahan yang paling sempurna: dipisah badan, disatukan doa.
Semoga Allah satukan Pak Gusti dan Bu Etty lagi di Jannah. Aamiin🤲🤲🤲🥹🥹🥹
Penulis. Dewi Puryanti. jemaah haji kloter 16 Regu 42. Pontianak Kalimantan Barat.
A. Suherman, S.//Red.


Social Header