ACEH BARAT-faktakrimnal.com
Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kecamatan Samatiga menggelar lomba merangkai ranup meuh batee dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat pagi, 14 Agustus 2026, di Aula Kecamatan Samatiga dan diikuti oleh perwakilan dari 32 desa se-Kecamatan Samatiga.
Lomba merangkai ranup meuh batee ini merupakan kegiatan perdana yang dilaksanakan dalam bentuk perlombaan oleh TP-PKK Kecamatan Samatiga. Selain memeriahkan perayaan HUT Kemerdekaan RI, kegiatan ini menjadi upaya untuk menghidupkan kembali praktik budaya Aceh sekaligus memperkenalkan tradisi tersebut kepada generasi penerus.
Ketua panitia kegiatan, Roza Nofiana, mengatakan lomba ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi antardesa, tetapi juga menjadi ruang untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap adat dan budaya Aceh.
Sementara itu, Nova Mahdianti, AMK, selaku Ketua TP-PKK Kecamatan Samatiga sekaligus penanggung jawab kegiatan, mengatakan kegiatan tersebut memiliki tujuan yang lebih luas, yakni menjaga keberadaan tradisi ranup meuh batee sekaligus mendorong proses regenerasi agar pengetahuan dan keterampilan budaya tersebut tidak berhenti pada generasi sekarang.
“Tujuan kita bukan hanya untuk memeriahkan 17 Agustus, tetapi juga bagaimana tradisi dan budaya Aceh tetap hidup. Kita ingin generasi muda mengenal, memahami, dan memiliki motivasi untuk ikut melestarikannya,” ujar Nova.
Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat dalam mempererat silaturahmi antardesa, meningkatkan kreativitas dan keterampilan peserta, serta membuka ruang bagi masyarakat untuk kembali mengenal nilai-nilai budaya yang ada di lingkungan mereka.
Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan pada masa mendatang sehingga ranup meuh batee tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Samatiga.
“Harapan kita, tradisi ini terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Jangan sampai adat dan budaya yang menjadi identitas kita hilang karena tidak lagi dikenali oleh generasi muda,” ungkapnya
Dalam perlombaan tersebut, setiap peserta diberikan waktu selama dua jam untuk menyelesaikan rangkaian ranup meuh batee. Penilaian dilakukan berdasarkan lima indikator, yaitu kerapian dan keindahan, teknik merangkai, kelengkapan bahan, kreativitas, serta kebersihan.
Melalui kegiatan ini, TP-PKK Kecamatan Samatiga berharap muncul kesadaran bersama bahwa pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab tokoh adat atau pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat. Keterlibatan generasi muda diharapkan menjadi salah satu kunci agar tradisi ranup meuh batee tetap dikenal, dipraktikkan, dan diwariskan secara berkelanjutan.
[R,NS]


Social Header